victims

Showing posts with label olahraga. Show all posts
Showing posts with label olahraga. Show all posts

Monday, January 22, 2018

Deras Deres

Kesulitan dari hujan yang tak henti dan tak pasti ini ialah tak adanya waktu tuk work out. Kalau sekedar berkeringat mah saya makan mie goreng (double) juga kemringet.
Mungkin ada ide tuk nge-gym aja, tapi entah mengapa kutaksuke tuk ngejim. Biasanya saya punya program sendiri tuk olahraga (demi dengkul yang tetap tegar) jadi kalo ngejim-ngejim takutnya ga efektif dan ngebosenin.
Hujan pun menyulitkan dalam rangka pengeringan sandang yang dipakai olahraga.. secara baju - celana olahraga banyak yang disumbangkan saat pindahan kemarin. Sisanya juga masih ada di box.
Tapikan hujan ini rejeki juga, untuk Pak tani, Bu tani, tanaman-tanaman, hewan, adek-adek ojek payung, mang taxi plus pabrik jas hujan cap Gajah.

Monday, August 31, 2015

Koper Berdebu

Untuk menjawab pertanyaan "kenapa ?" yang mungkin akan berdatangan seminggu kedepan.

Hari Minggu 30 Agustus 2015 Ketua Perbasasi DIY mengantarkan pesan dari KONI DIY bahwa Tim Softball Putra Yogyakarta tidak mendapat restu untuk berangkat ke Jakarta untuk mengikuti kualifikasi PON Jabar XIX. Dalam sebuah forum di dug out  bagian timur Lapangan Softball-Baseball hal tersebut diputuskan dan disertai salam-salaman antara pemain, pelatih dan pengurus.

hal ini harus dilakukan karena ada masalah administrasi menilik kasus yang terjadi pada tim putri yang mana ada satu pemain yang tidak diberikan izin bermain oleh panitia pelaksana.

Tim putra memiliki kans untuk mengalami hal buruk yang sama dengan jumlah orang yang lebih banyak jika berangkat ke Jakarta nanti. dan menyebabkan Jogja tidak dapat bermain dengan maksimal.

dan Pra Pon Softball di Jakarta nanti, Daerah Istimewa Yogyakarta tidak ikut serta mengotori celananya dengan merahnya tanah Lapangan Softball di Senayan.


***

Hingga post ini dipublikasikan mungkin saya masih akan berusaha mencari hal baik dalam keputusan ini. dan jika ada pemain lain yang juga tersakiti semoga tulisan ini dapat mewakili.

mungkin akan terkesan egois karena ini adalah curhatan :p

***

Pemusatan Latihan Softball dimulai dari awal tahun 2015. Pesertanya jarang menyentuh 20 orang dari kira-kira 30 orang yang dipanggil. kira-kira 20 orang yang dipanggil adalah pemain yang rata-rata baru 6 bulan bermain Softball. 10 orang sisanya sudah memiliki pengalaman yang cukup.

uniknya dari 30 pemain yang dipanggil untuk pemusatan latihan tersisa 15 orang yang 6 orang di dalamnya tidak dipanggil untuk seleksi tim Pra Pon Softball.

Pra PON merupakan kualifikasi event olahraga terbesar se-Indonesia, namun suasana latihan, program dan fasilitasnya tidak sebaik persiapan yang pernah saya alami untuk kompetisi antar universitas.

***

Selama hampir 8 bulan berlatih, tiga kali seminggu, semua berhenti tanpa ada kompromi. Usaha kami selama 8 bulan lamanya tidak berbuah apa-apa, bahkan keberangkatan sekalipun. Dalam satu malam semua dengan mudah diputuskan dan esoknya diumumkan kepada tim putra yang sedang dalam tingkat semangat yang tinggi, karena dua minggu lagi akan berangkat ke Jakarta seperti yang dijanjikan 8 bulan yang lalu.


Keputusan ketidak-berangkatan tim softball putra DIY diambil seakan tim ini tidak pernah ada dari awal. Tidak melihat apa yang dikorbankan oleh pelatih dan pemain selama 8 bulan ke belakang.


dan koper-koper yang sudah berharap untuk bersihkan debunya untuk berangkat ke Jakarta, harus menunda perjalanan mereka untuk suatu kejuaraan yang mungkin penting di rentang waktu hidup mereka

***
PON adalah event olahraga terbesar di Indonesia, dan diadakan empat tahun sekali. awalnya saya berharap dapat menutup kesenangan saya bermain softball di Jogja dengan mengikuti Pra PON bersama tim Jogja.

Tidak ada kepedulian untuk dapat lolos ke PON, karena bermain di event Pra PON saja sudah menjadi kebahagiaan tersendiri.

Dalam cabang lain masalah gaji pemain sudah menjadi budaya, saya dan mungkin hampir seluruh pemain mengikuti tim Jogja kali ini tidak mengharapkan uang sepeser pun. tim ini tidak pernah mengeluh dengan tidak adanya gaji untuk pemain bahkan uang saku, ketika cabang olahraga lain saling membandingkan gaji mereka.saya pribadi hanya ingin merasakan bermain membela suatu daerah dan menikmati segala prosesnya.

Namun ternyata Jogja itu sendiri yang menutup kesempatan saya untuk melakukan ini.

Tentunya saya tidak ingin menunggu empat tahun lagi untuk mengikuti event ini. Saya akan mengubur mimpi saya dengan kenang-kenangan yang diberikan oleh Jogja terhadap saya mengenai hal ini. 

Hal yang merupakan kesalahan dari manajemen tim jogja tetapi mengorbankan mimpi 17 orang yang sudah 8 bulan mengabdikan tenaga dan pikirannya demi nama yang mereka sanding di dada.

dan saya pribadi memaafkan mengenai apa yang menimpa kami, tim softball putra Jogja, tetapi tidak akan pernah terlupakan bagaimana hal ini terjadi.

***

entah mengapa dalam tulisan versi tadi malam saya sulit untuk merangkai katanya agar menjadi lebih baik. dan pagi ini saya mengubah beberapa bagian agar dapat dibaca dengan lebih baik.

untuk segala emosi yang ditumpahkan saya mohon maaf jika ada yang tersindir atau terluka hatinya.


***

semangat tim putri ^^

Tuesday, July 1, 2014

Harga Juang

Kalau sedang beruntung, bisa ditemui seorang bapak-bapak yang masih bugar dengan umur mungkin sudah menginjak kepala lima, sedang berjalan megal-megol di sekitaran Grha Sabha Pramana (GSP). Tadi sore saya memberanikan diri menyapa dengan tekad mencari tahu siapa sebenarnya dia. Terlihat sekilas, doi adalah mantan atlet, mungkin atletik karena bentuk tubuhnya masih bagus dan tidak begitu buncit.

Tanpa berkenalan saya mencoba memulai obrolan, namun karena sudah lewat 6 jam dari waktu obrolan saya dengan bapak tersebut, ada beberapa part yang adalah prakiraan namun maksudnya tetap sama... di sini saya aktif terus bertanya agar tidak awkward ~

D : Derry
B : Bapak

--
D : Bapaknya atletik pak ?
B : ya dulu..
D : Apa pak ? jalan cepat pa ?
B : iya jalan cepat 
D : Cabang lain ikut juga pa ?
B : ndak, spesialis.. kalo marathon ya marathon tidak bisa ikut jalan cepat.. sprint juga.. semua sudah ada jalannya sendiri-sendiri..
D : bapak wakili Jogja berarti ?
B : iya..
D : Paling tinggi apa pak ?
B : dulu emas saya..
D : Kejurnas ?
B : Iya.. Asian juga pernah.. Asia Pasifik.. pernah. Dulu emas tahun '84 pernah 86.. 88.. terakhir 90..
kalo yang Kejuaraan Asia itu di Singapur.. jalan cepat keliling singapur, 20 kilo.. .. saya rekornas sekali di Jakarta waktu itu..
D : berapa pak waktunya itu ?
B : 45 menit sekian, sebelumnya 46 menit.. 20 kilo..
D : lawannya yang kuat dari mana pak kalo dari luar negeri ?
B : Malaysia itu yang paling kuat..
D : Thailand ?
B : Thailand ga bagus..
D : Jepang pak ?
B : Jepang itu ngga bagus, kalo sprint mereka bagus.. jalan cepat ngga..
D : Kalau nasional yang bagus dari mana pak ?
B : Lampung itu bagus.. lalu Jogja sama (saya lupa nama kota-nya).... kalau kejuaraan sirkuit itu pokoknya yang dateng itu pasti dari Kalimantan timur, tengah, Jogja, Jatim... ya itu-itu aja. kalo Kejurnas baru tambahan dari Maluku sama Papua...
D : Papua bagus juga pak ?
B :  dari Papua itu kebanyakan kena malaria jadi ga kuat kalo jalan cepat, Papua bagus kalau lempar lembing, martil.. tolak peluru...
D : Bapak ga ngelatih pak ?
B : endak, sudah ada orang yang ngelatih..
D : Dulu pernah ditawarin tinggal di Jakarta pak ?
B : endak.. dulu saya tinggal di Jakarta 8 bulan.. Pelatnas. kalau latihan di Parkir timur situ.. latihannya keras, yang melatih Pak Asro itu di pegawai Pertamina.. keras orangnya. Marathon juga dia yang pegang. Ya latihannya keliling Parkir Timur itu sambil ditungguin. Bangun pagi jam tujuh latihan sampai jam 10. paling ngga dua jam setiap latihan.. programnya ada kecepatan atau jarak jauh... 
D : .. hooo...
B : tapi Jakarta itu bising.. dulu aja nyaris ditabrak mobil. pernah itu pas lagi latihan
D : ..hooo...
B : Kalau sudah punya anak gitu susah, banyak pikiran.. tidak fokus lagi..
D : Terakhir main kapan pak ?
B : Saya menikah itu tahun 1996 terakhir itu kira-kira 1994.. sudah bosan keluar negeri.. tapi kalau sekarang ikut kejuaraan saya masih berani, masih bisa menang saya.
D : ...hooo...
B : Tapi malas juga, kalau ke Jakarta.. biaya sendiri tapi maju atas nama Jogja... paling ngga ke Jakarta itu habis 3 juta mas.. Jogja itu kurang kalau masalah begini. Dulu uang saku dari Jogja itu 100.000 kalau daerah lain udah 2 juta. malu kalau dibandingin daerah lain. Kalau juara cuman dapet medali.. kebanggaannya kalau di atas podium aja rame-rame.. kalau udah turun podium udah selesai ga ada apa-apa lagi..

(selanjutnya saya sok-sok tanya tentang teknik jalan cepat)

....

setelah itu sang bapak-bapak pulang memakai celana jeans pendeknya dan pulang dengan motor bebek.

tadi adalah potret dari kehidupan mantan atlet di Indonesia. namun sepertinya bapak itu cukup beruntung karena terlihat hidup dengan berkecukupan.

ada banyak lagi yang kurang beruntung dengan kekayaan terbatas pada kejayaan masa lalu yang tergantung rapi di rumah mereka. Yang ada hanya cerita-cerita manis yang sering dimuati di surat kabar. Namun tidak ada kejelasan dalam hidup para mantan atlet yang tidak memiliki jenjang karir dalam pekerjaan mereka.

Pilpres tahun ini menaruh harapan besar untuk mereka atlet dan mantan atlet di Indonesia. Siapapun yang terpilih semoga dapat mendengar suara mereka dan menghargai perjuangan mereka untuk negeri ini.