Thursday, June 8, 2017

Tanya Derry Sebelum Membeli : Koko Krunch Sereal Bar Cokelat

Di Ramadhan tahun 2017 ini dalam sebuah pencarian kudapan untuk teman berbuka puasa, tak sengaja di jejeran snack bar baris ketiga dari eye-level di Indomaret ada dua buah bungkusan bergambar Koko Krunch bercampur dengan fitbar. Produk terbaru dari Sereal ternama Koko Crunch yang selama ini hanya fokus pada bonus mainan di dalam bungkusnya dan sibuk mengganti warna Serealnya sepanjang tahun, yakni Koko Krunch "Sereal Bar Cokelat". Sebuah upaya lain menjual Serealnya yang menurut saya sangat inopatip. Barang ini mungkin sudah lama beredar di luar negeri, di Indonesia sendiri sepertinya baru tahun ini mendarat di daerah besar di Indonesia.

Hasil gambar untuk koko krunch cereal bar

Setelah saya buka bungkusnya, oke ada pengalaman cukup menarik saat membuka bungkusnya : bungkusnya sangat mudah dibuka/disobek. Hal ini jarang terjadi, entah apa bahan plastik ini namun saya terkesima.
oke, kembali ke konten makanannya...
Setelah saya buka bungkusnya, terlihat Koko Krunch mini-mini yang  saling menempel satu dengan lainnya. lapisannya agak lengket sehingga berkilau dan bagian bawahnya dibalur cokelat putih (ya ? ) sehingga berwarna putih.

Rasanya enak dan mudah digigit karena mereka mudah dilepas. Pure Sereal tidak ada bagian yang dibuat dari unsur lain karena mungkin harapan awalnya akan padat seperti Snickers, Top, Beng-Beng, Kit-Kat, Fitbar atau Soyjoy. Sereal Bar ini cukup dapat bersaing dalam kategori energy bar, khususnya tuk anak-anak / remaja yang butuh energy booster namun tak ada waktu untuk makan makanan berat seperti ada pelajaran olahraga di pagi hari, atau pulang sekolah harus les renang dan latihan taekwono. Cukup mengunyah Koko Krunch Sereal Bar ini semoga dapat menambal energi yang kurang.

Harganya Rp 6000 di Indomaret, mungkin di Supermarket bisa Rp.5500 - 5800, harga lumayan mahal untuk sebuah kudapan, maka dari itu target konsumennya tetap tak jauh dari mereka yang biasa mengkonsumsi sereal di pagi hari yakni dengan pendapatan cukup tinggi menengah keatas.




Monday, January 30, 2017

Akhir Fulan

Januari ini cukup menarik karena ada beberapa ektiviti yang terkenan di hati, seperti Sarapan Jazz dan menyaksikan Endah & Rhesa secara langsung (dari samping panggung). Februari tentunya diharapkan ada hal yang lebih-lebih. Paling nggak, setiap bulan ada yang begini-begini. Menambah cerita untuk anak-cucu kita nanti ((kita))

Sarapan Jazz menjadi event yang menyenangkan karena ada banyak teman baru yang saya temui. Yes, dengan teman kuliah yang tersisa beserta teman kerja, teman band, teman dari circle irisan teman-teman lama ini, saya  tidak punya teman baru lagi. Maka akhir-akhir ini agak freak dalam berkenalan. Siapa-siapa diajak kenalan. Untungnya di Sarapan Jazz bisa berkenalan dengan enak karena ya.. kan satu acara gini masa ga kenalan.

Liburan Indie menjadi resolusi pertama yang terealisasikan. Lagu yang ciamik ini kerap saya dengarkan via Spotify. Meski tak terlalu hafal liriknya, tapi pasti manggut-manggut dan kadang saya ulang-ulang. Beberapa hari setelah Sarapan Jazz, saya akhirnya menyaksikan Endah & Rhesa dari Soundcheck hingga main penutupan. Saat itu juga berkenalan dengan beberapa kru-nya yang asik asik. 

Lumayan lah ya bisa ngisi-ngisi blog ini, agar aktif terus.


Februari ?
kurasa harus lebih dari cinta-cintaan semata ya 

Thursday, January 19, 2017

Sexy Back

Pertanyaan yang selalu muncul ketika menonton pertunjukan musik atau dalam tugas jaga panggung. "Kenapa sih pada seneng banget yang foto-foto atau yangrekam rekam video ini naik-naik atau ambil gambar lewat dari belakang panggung ?"
mungkin ingin mencari ((sudut pandang lain)) ya. 

Tapi kan gambar itu lebih bagus kalau ada muka artistnya, kemudian lampunya juga lebih jelas atau alat yang dimainkan juga lebih terlihat kan. Apa yang didapat sih kalau ambil gambar dari backstage / sidestage yang mana disitu yang sering ketutup oleh orang-orang lain (termasuk saya yang kadang sengaja ngalang-ngalangin :p).

kenapa foto-meng-foto atau rekam merekam di atas / belakang panggung itu tidak baik ?
jawabannya simple, karena mengganggu.
mengganggu siapa ?
Pertama, artist. 
Mungkin saja artist jadi terganggu karena menjadi tidak fokes ketika bermain myuzik.
Kedua, kru panggung.
Mungkin saja ada tindakan atau aktivitas yang mana terhalangi karena adanya seseorang yang seharusnya tidak disitu. Lebih ditakutkan lagi jika ternyata ada barang yang rusak, kabel yang tersenggol, alat terinjak dan lainnya yang membuat pertunjukkan runyam.
Ketiga, Penonton
Panggung disediakan untuk artist mempresentasikan karyanya dan bergembira bersama penonton. hore-hore. Ketika ada orang lain di atas panggung pastinya menjadi fokus lain yang mana..

"WOY GW MAU NONTON XENA XENITA, BUKAN ELU !"

Keempat, fotografer / videografer lain.
Untuk mengambil gambar di panggung ada banyak unsur yang memperindah, yakni kehadiran artistnya itu sendiri, alat musiknya, lampu, asap dan seterusnya. Gagal sudah keindahan itu jika ada objek lain yang tau-tau ada disitu menodai objeknya, dan hal lain yang mungkin cuma bisa dipahami oleh fotografer atau videografer panggung.

Kelima, yang bikin acara
baik itu EO, atau kampus atau perseorangan atau sebuah lembaga dan apapun itu sebutannya. Bisa jadi ada omongan 

"gimana sik ini yang bikin acara, gua mau nongton Apoy Wali solo gitar malah ditutupin rangorang motret / mideo"

"TAPI KAN SAYA PANITIA MAS ?"

Yes, panitia pun harus menghindari hal ini sebenarnya. Kru panggung yang punya kepentingan lebih saja harus seminim mungkin outframe dari panggung. Jika ada fotografer/videografer resmi artist pun harus melewati izin Stage Manager. Treatment saya sendiri biasanya saya berikan waktu di satu lagu. entah lagu yang mana yang kiranya sang fotografer/videografer bisa dapat gambar bagus. Mungkin dilagu itu memang sang artist cukup atraktif atau alasan lainnya.

Hal ini terlalu kerap terjadi sehingga sepertinya butuh aturah khusus yang harus diketahui secara umum mengenai foto-meng-foto dan video-meng-video di dalam suatu pertunjukkan. sebuah aturan yang memang dibahas secara masif oleh orang berpengaruh di dunia pertunjukkan baik musik, tari, teater dan lainnya agar banyak orang sadar dan mengetahui bahwa yang mereka lakukan itu kurang baik bagi banyak pihak.

Begitu kira-kira keluh kesah saya yang siapalah ini hanya buruh angkut di panggung yang kadang masih suka in-frame panggung amerga ketakutan yang tinggi karena pertunjukkan yang kelewat atraktip. Jadi maap kalo ada yang kena larang saya kalo kebetulan saya yang jaga panggungnya. begitu.


Sarapan Jazz 2017
(gambar agak burem, makelum hape korea)
Coba liat pemandangan begini, lebih enak kan.

Monday, January 16, 2017

Pesan Tony

Bukan tentang guru geografi saya saat SMA.
Tony Awards adalah penghargaan untuk tokoh-tokoh Teater di Amerika sana.
Setiap tahun para pelaku seni teater dari hulu hingga hilir diberi penghargaan atas kontribusinya di tahun tersebut, aktris, aktor, penata cahaya, penata suara, produser dan seterusnya.

Beberapa hari ini saya rajin menyaksikan beberapa pembukaan dari award tersebut, seenggaknya ada 3 Tony Awards Opening yang kerap saya saksikan, yakni tahun 2012, 2013 dan 2016. Pembukaan tahun 2012 dan 2013 dipandu oleh Neil Patrick yang sangat kondang sebagai opener malam penanugrahan seperti Oscar, Emmy dan People Choice Award.

Setiap pembukaan Tony punya pesan-pesan menarik kepada dunia tentang Teater. Tahun 2011 Tony Awards mengangkat tema, bahwa teater bukanlah tempat khusus untuk para gay atau homoseksual, teater itu milik semua lapisan masyarakat tak peduli latar belakangnya. 

2013 membawa pesan yang lebih besar dengan "make it bigger". Mereka percaya bahwa teater dapat menjadi tempat yang lebih baik dan lebih besar untuk semua penikmat, pekerja dan semua orang-orang yang bermimpi menjadi bagian dari Broadway.

Favorit saya adalah Tony Awards dipandu dan dibuka oleh penampilan ciamik James Corden, pemandu acara Late Late Show yang kini booming dengan Carpool Karaoke-nya di Youtube,  yang tidak punya latar belakang teater membuka Tony Awards dengan rapih dan jenaka. James membawa pesan yang cocok dengan latar belakangnya "this could be you". Pesan yang sangat baik menggugah untuk anak-anak teater manapun yang menyaksikan. Pesan yang membuat penegasan bahwa.. kamu bisa saja ada di atas panggung ini sebagai apapun suatu saat nanti. Pesan yang membuat mata orang-orang bahwa segalanya dapat terjadi, seperti James yang mungkin di hati kecilnya memiliki keinginan dapat tampil di teater dan malam itu segalanya menjadi nyata.

Melihat festival-festival serupa di Indonesia, belum ada kiranya yang memiliki pesan-pesan seperti itu. Semua masih terpaku pada tokoh. Siapa yang terkenal saat itu ? Pasang saja di pembukaan agar meriah dan semua senang. Rating tinggi dan pemilik TV bahagia.

Jika pembelaannya. Wah orang TV belum mampu buat hal yang begitu. Ada banyak pekerja-pekerja seni yang sering membuat hal serupa, tidak harus orang dalam. Bisa hire orang luar perusahaan yang kemudian bisa mendesain segalanya agar menjadi hal yang baik.

Contohnya ?
Satu-satunya Teater musikal besar yang pernah saya tonton, Laskar Pelangi. Secara logika prosesnya sama, tinggal adanya keinginan untuk membuat hal yang baru di festival di Indonesia yang sayangnya hanya sebatas ini...



Setelah itu memang harus ada yang memulai. memang ongkos produksi pasti besar karena harus latihan dan mendesain tarian, lampu, visual dan seterusnya. Tapi proses yang baik itu pasti dapat membuahkan sebuah karya yang dapat menaikkan standard festival di Indonesia.


Untuk itu link video Tony Awards yang saya bahas di atas, akan saya sertakan di bawah ini.
enjoy ~


Tony Awards 2012

Tony Awards 2013


Tony Awards 2016


Tony Awards 2011

Tuesday, January 3, 2017

Aurot

Fenomena lepas jilbab cukup ramai ditemui di kampus saya. FISIPOL UGM.
Sejak SMP atau SMA berjilbab kemudian melepasnya di saat kuliah, antara semester 1 dan 2.
Kadang agak gak berani untuk tanya "eh kenapa lepas ?"
Tapi di beberapa kesempatan, karena hasrat manusia yang paling besar ialah "ingin tahu" maka haruslah saya tanyaken.

"kenapa lepas ?"

Jawabannya cukup tidak memuaskan, karena kebanyakan menjawab...
"tiba-tiba pengen aja" "pengen aja" "ya pengen aja"

Mungkin ada jawaban lain dari mereka yang belum boleh saya ketahui. yes, slice onion theory. (pake teori biar kepake kuliahnya). Gelombang lepas jilbab ini cukup besar dan ternyata tidak terjadi saat jaman kuliah saja, tapi setelah lulus pun terus ada aksi-lepas-jilbab yang cukup masif.

Jadi kalau ada anggapan UGM adalah kampus Sesat, kafir, liberal, syiah, komunis, sosialis, PKI, LGBTQ, Ahokers ! Tentu saja salah.
Karena UGM kampusnya Jokowi.

dan Jokowi selalu salah.

Selain aksi-lepas-jilbab.
karena kata "aksi" sedang naik SEO nya saya sengaja pake kata ini.
oke.
Selain ada aksi-lepas-jilbab ternyata besar pula aksi-pakai-jilbab.
hmmm
saya masih enggan pakai kata hijab. Karena tidak familiar dimulut saya, begitu.

Aksi-pakai-jilbab muncul beriringan dengan berjilbabnya Dewi Sandra, kemudian  Ayat-ayat Cinta yang booming hingga ke luar negeri, dan Sunsilk mengeluarkan shampoo yang membuat perempuan lebih nyaman dengan berjilbab.

Kemudian banyak selebriti yang berjilbab buka butik jilbab dengan mode yang ini itu warna-warni. Youtube dihujani tutorial memakai jilbab agar modis dan masa kini dengan waktu yang singkat.

Perkembangan yang begitu cepat sehingga mereka menjadi sebuah komunitas yang besar, kerap mengundang desainer baju muslim tuk berbagi tips dan trik berjilbab, tak lupa Wardah sebagai brand islami terkemuka ikut andil (dan untung besar) dalam  meledaknya fashion "islami" (lebih tepat Arab Wave) ini.

tak heran terlalu banyak orang mendadak berjilbab. Layaknya betapa ramai orang di mall dan keramaian memakai kaos dan dasi ketika sk8ter boi-nya Avril Lavigne ramai di MTV. dan semua anak memakai plester di tubuhnya yang tanpa luka, karena Sherina.

Tapi, tetapi, namun..
tidak semua yang tiba-tiba berjilbab itu korban mode atau ikut-ikut belaka atau latah. Tak sedikit yang menganggapnya sebagai, hijrah. Pembaruan diri, pendewasaan diri atau bahasa lain-lainnya.

Yang namanya memulai itu sulit lho..
bagi saya, orang-orang yang akhirnya memutuskan berjilbab di usia dewasa sangatlah keren. Banyak yang makin dewasa semakin meninggalkan kepercayaan dan sangat duniawi, di samping itu ada pula yang semakin menemukan keagamaannya dan akhirnya melangkah lebih dekat dengan memenuhi kewajiban-kewajiban lainnya, seperti..

menutup aurat, menikah, naik haji dan seterusnya.

yah, pakai tak pakai semoga tetap jadi orang baik.
baik jiwa dan raganya.

Setahun Kemarin

Ternyata lama juga ga mengisi blog ini.
setahun.

Sibuk asik (ga asik-asik amat sih) di blog sebelah, kini akhirnya muncul tekad untuk kembali menulis di sini. Menulis tanpa beban, dengan tema yang seadanya dan ditulis tangan (ketik) oleh orang yang setahun yang lalu berhenti nulis di sini.

Berarti udah setahun juga ga meramaikan timeline media sosial dengan link dari blog ini. Mungkin 2017 bisa agak adem dengan adanya link dari lomonoblablabla setelah seharian isinya keekstriman orang lain dalam mendukung ini dan itu dalam politik dan agama.

resolusi ?
bisa hidup aja, bahagia dengan banyak teman dan tidak mati.
banyak berbuat baik, banyak menghasilkan unggahan "karya" di dunia maya dan..
bisa keluar negeri dengan uang negara sendiri atau negara lain.
mari dimulai dengan
dengan menyebut namaNya yang maha pengasih dan penyayang

niat yang baik semoga Tuhan merestui dan semesta....
2017  mungkin punya sinonim dari semesta..
biar ga menstrim aja, walau kata kifurai menjadi menstrim belum tentu jadi yang terbaik.

Friday, October 2, 2015

Dunia Fantasi Sarasvati

"Bangun adalah bagian terbaik dari mimpi"


Tidak ada sapaan "Selamat Malam Jumat" malam kemarin,  hal yang aneh dari pentas Sarasvati. Namun mungkin satu langkah awal dari sebuah perubahan besar yang akan mereka lakukan.



Saya mengulang apa yang saya lakukan saat Sunyaruri. Menuju Bandung, menonton pertunjukkan dan kembali ke Jogja di pagi harinya. Mengetahui bahwa jadwal sidang skripsi jatuh sebelum 1 Oktober 2015, dengan memberanikan diri saya membeli tiket Ratimaya Sarasvati dan tiket kereta Lodaya Pagi tanggal 28 September 2015 dengan sedikit berdoa jadwal sidang tidak diundur.



Hasilnya, sidang skripsi diundur satu hari, dan saya melenggang ke Bandung tanggal 1 Oktober pagi hari dan tiba sore hari pukul empat.



Pertunjukan teater dan musik Ratimaya Sarasvati dimulai kira-kira pukul 20.00 dan selesai pukul 21.45. Karena konsepnya adalah teater, maka penonton tidak bisa berhadap ada encore di akhir pertunjukkan.

setlist Ratimaya Sarasvati bonus cap bibir Shella

Lagu yang dibawakan mayoritas lagu baru yang ada di album terbaru Sarasvati, Ratimaya. Tetapi ada beberapa lagu yang sudah pernah diperdengarkan  seperti Story of Peter, Ananta Prahadi, Apakah Mata Kami Buta dan Wizard Girl. Ada satu lagu yang cukup menarik dibawakan dan masuk ke dalam album, yaitu Unfolding Sympathy yang dahulu dipopulerkan oleh Homogenic, band terdahulu Risa Saraswati.


Tema teater yang dibawakan mengingatkan saya dengan cerita fiktif progresif dan semi-absurd (saking miringnya cerita teaternya xD) seperti Wizard of Oz, Black Swan, Fight Club (film)  dan Child of Light (game) yang dikawin-silangkan dengan lucid dream atau astral (?) dengan sentuhan tradisional dalam bagian sinden lagu sunda dan koor yang menyanyikan Lir-Ilir.

Ratimaya mendengarkan kotak musik

tokoh absurd
Banyak tokoh-tokoh absurd di dalam teater Ratimaya Sarasvati yang dikemas dalam cerita mimpi Ratimaya dalam tidurnya yang ternyata sudah berhari-hari.


Adalah satu pengalaman unik menyaksikan konser satu ini. Menjadi saksi satu langkah perubahan band yang sejak 2010/2011 dikenal dengan cerita-cerita jurig. Ya, mungkin kedepannya Sarasvati akan berjalan dalam satu tema ini setelah kira-kira dua tahun Peter cs meninggalkan Risa.


***



Ada sedikit hal-hal kurang menyenangkan yang ada saat konser kemarin. Hal pertama yang saya keluhkan (apalah saya ini cuma bisa mengeluh) adalah tempat duduk penonton yang tidak pro-penonton. Ratimaya Sarasvati dilaksanakan di Sasana Budaya Ganesha ITB. Tempat duduk secara umum terbagi empat. Bagian Kanan, tengah, kiri dan depan untuk lesehan persis di depan FOH. Bagian tengah adalah tempat duduk khusus undangan. Sisanya untuk penonton tiket dan media. Tempat duduk kanan dan kiri cukup jauh pandangannya dari panggung dan hanya dapat sisi kanan atau kiri sound out sehingga suara yang diterima tidak stereo. layar yang disediakan pun tidak membantu untuk menikmati pertunjukkan karena adanya delay kira-kira 0,25 detik yang mengganggu. Untuk penonton lesehan  tengah depan pastinya mendapatkan pandangan terbaik. 



secara teknis saat teater mic clip-on juga beberapa kali mati sehingga pemeran harus berteriak saat pentas. Namun selebihnya seperti suara musik dan lelampuan diatur dengan baik.



***





Ratimaya Sarasvati yang digarap oleh tim Sarasvati dan Merch of Emotion membangun cerita dengan cukup baik, Namun karena ada dua unsur dalam pertunjukan ini baik musik dan teater tidak dapat tampil dengan maksimal.



***



Akhirnya album keempat Sarasvati liris ! (album bersama Gran Kino tidak dihitung :p) Jika dibuat peringkat, album favorit saya masih Mirror, disusul Story of Peter dan Ep Sunyaruri yang sama-sama ada diperingkat dua dan Ratimaya sepertinya harus ada diperingkat terakhir. Melihat bagaimana Sarasvati memproduksi karya sepertinya ada unsur buru-buru yang membuat Sunyaruri pada akhirnya hanya sekedar EP dan Ratimaya yang menurut saya ada penurunan kwalitet.



Mungkin album selanjutnya bisa dikerjakan dengan fokus yang maksimal, Risa bisa libur dulu menulis buku-bukunya yang seabrek, libur pula dari syuting bersama mas Tukul dan bisa fokus menggarap hal yang mungkin bisa lebih baik dari Mirror.



We Are Happy Family !

Monday, August 31, 2015

Koper Berdebu

Untuk menjawab pertanyaan "kenapa ?" yang mungkin akan berdatangan seminggu kedepan.

Hari Minggu 30 Agustus 2015 Ketua Perbasasi DIY mengantarkan pesan dari KONI DIY bahwa Tim Softball Putra Yogyakarta tidak mendapat restu untuk berangkat ke Jakarta untuk mengikuti kualifikasi PON Jabar XIX. Dalam sebuah forum di dug out  bagian timur Lapangan Softball-Baseball hal tersebut diputuskan dan disertai salam-salaman antara pemain, pelatih dan pengurus.

hal ini harus dilakukan karena ada masalah administrasi menilik kasus yang terjadi pada tim putri yang mana ada satu pemain yang tidak diberikan izin bermain oleh panitia pelaksana.

Tim putra memiliki kans untuk mengalami hal buruk yang sama dengan jumlah orang yang lebih banyak jika berangkat ke Jakarta nanti. dan menyebabkan Jogja tidak dapat bermain dengan maksimal.

dan Pra Pon Softball di Jakarta nanti, Daerah Istimewa Yogyakarta tidak ikut serta mengotori celananya dengan merahnya tanah Lapangan Softball di Senayan.


***

Hingga post ini dipublikasikan mungkin saya masih akan berusaha mencari hal baik dalam keputusan ini. dan jika ada pemain lain yang juga tersakiti semoga tulisan ini dapat mewakili.

mungkin akan terkesan egois karena ini adalah curhatan :p

***

Pemusatan Latihan Softball dimulai dari awal tahun 2015. Pesertanya jarang menyentuh 20 orang dari kira-kira 30 orang yang dipanggil. kira-kira 20 orang yang dipanggil adalah pemain yang rata-rata baru 6 bulan bermain Softball. 10 orang sisanya sudah memiliki pengalaman yang cukup.

uniknya dari 30 pemain yang dipanggil untuk pemusatan latihan tersisa 15 orang yang 6 orang di dalamnya tidak dipanggil untuk seleksi tim Pra Pon Softball.

Pra PON merupakan kualifikasi event olahraga terbesar se-Indonesia, namun suasana latihan, program dan fasilitasnya tidak sebaik persiapan yang pernah saya alami untuk kompetisi antar universitas.

***

Selama hampir 8 bulan berlatih, tiga kali seminggu, semua berhenti tanpa ada kompromi. Usaha kami selama 8 bulan lamanya tidak berbuah apa-apa, bahkan keberangkatan sekalipun. Dalam satu malam semua dengan mudah diputuskan dan esoknya diumumkan kepada tim putra yang sedang dalam tingkat semangat yang tinggi, karena dua minggu lagi akan berangkat ke Jakarta seperti yang dijanjikan 8 bulan yang lalu.


Keputusan ketidak-berangkatan tim softball putra DIY diambil seakan tim ini tidak pernah ada dari awal. Tidak melihat apa yang dikorbankan oleh pelatih dan pemain selama 8 bulan ke belakang.


dan koper-koper yang sudah berharap untuk bersihkan debunya untuk berangkat ke Jakarta, harus menunda perjalanan mereka untuk suatu kejuaraan yang mungkin penting di rentang waktu hidup mereka

***
PON adalah event olahraga terbesar di Indonesia, dan diadakan empat tahun sekali. awalnya saya berharap dapat menutup kesenangan saya bermain softball di Jogja dengan mengikuti Pra PON bersama tim Jogja.

Tidak ada kepedulian untuk dapat lolos ke PON, karena bermain di event Pra PON saja sudah menjadi kebahagiaan tersendiri.

Dalam cabang lain masalah gaji pemain sudah menjadi budaya, saya dan mungkin hampir seluruh pemain mengikuti tim Jogja kali ini tidak mengharapkan uang sepeser pun. tim ini tidak pernah mengeluh dengan tidak adanya gaji untuk pemain bahkan uang saku, ketika cabang olahraga lain saling membandingkan gaji mereka.saya pribadi hanya ingin merasakan bermain membela suatu daerah dan menikmati segala prosesnya.

Namun ternyata Jogja itu sendiri yang menutup kesempatan saya untuk melakukan ini.

Tentunya saya tidak ingin menunggu empat tahun lagi untuk mengikuti event ini. Saya akan mengubur mimpi saya dengan kenang-kenangan yang diberikan oleh Jogja terhadap saya mengenai hal ini. 

Hal yang merupakan kesalahan dari manajemen tim jogja tetapi mengorbankan mimpi 17 orang yang sudah 8 bulan mengabdikan tenaga dan pikirannya demi nama yang mereka sanding di dada.

dan saya pribadi memaafkan mengenai apa yang menimpa kami, tim softball putra Jogja, tetapi tidak akan pernah terlupakan bagaimana hal ini terjadi.

***

entah mengapa dalam tulisan versi tadi malam saya sulit untuk merangkai katanya agar menjadi lebih baik. dan pagi ini saya mengubah beberapa bagian agar dapat dibaca dengan lebih baik.

untuk segala emosi yang ditumpahkan saya mohon maaf jika ada yang tersindir atau terluka hatinya.


***

semangat tim putri ^^

Tuesday, July 7, 2015

Cerita Jamrud

Lagu-lagu Jamrud menemani saya dan teman-teman di jemputan sekolah saat pulang. 
Bukan dari kaset atau CD.
Kita nyanyi-nyayi sehafalnya dari lagu ke lagu.
Lagu yang sering jadi plesetan adalah "Terima Kasih" . Kerap dikatakan ketika ingin ngomong "terima kasih" kepada seseorang... kemudian spontan.. keluar nada lagu "Terima Kasih"-nya Jamrud.

"terema kaseeeeh kooo...."

Saya sendiri belum gemar dengar radio dan beli kaset.
Saya ketemu Jamrud saat nongrong di MTV. Selain MTV, Jamrud juga kerap dinyanyikan di Pos Ronda dekat rumah ketika malam hari, selain lagu SO7, Bip, dan beberapa lagu barat.

Harus diakui Jamrud salah satu band yang kuat karena narasi di lirik-liriknya.
(nulis gini pengaruh awe)
Lagu-lagu Jamrud selalu menceritakan sesuatu.
liriknya ditulis seadanya, selewatnya dikepala.
bisa dibilang terlalu jujur.
walau lirik atau tema lagunya terkesan jenaka atau porno
namun tetap serius, bukan parodi.
musik yang digarap pun juga maksimal.

narasi dalam lagu Jamrud menggambarkan keseharian yang remeh.
sering terjadi seperti hamil diluar nikah, cerita bertemu mertua, ditinggal istri hingga kado ulang tahun. penyusunan cerita di lirik lagu Jamrud sangat runtut sehingga pendengar akan mudah hafal urutan lagunya dan mengerti apa cerita dibalik lagu tersebut.

cerita yang menarik tentunya ada di lagu "Surti & Tejo" yang bicara tentang Tejo yang kembali dari kota dan membawa "budaya kota" ke kampungnya.
dan ending lagu yang sangat terkenal, yakni pada bagian

"...Surti.. fuck you.."

ada cerita lain yang juga menarik, seperti pada lagu "Ningrat" tentang keluarga pasangan yang kolot dan uniknya masih relevan hingga kini yang mana pertanyaan rasial dari asal orang tua, marga, agama hingga ke pekerjaan orang tua masih menghiasi ketika pertama kali main ke rumah pasangan.

juga cerita "telat tiga bulan" yang mungkin terdengar patriarki karena liriknya menyalahkan perempuan yang mau "berguling-guling di atas pasir" karena "...kau mau saat ku rayu..". namun kalau ditelisik lagu ini lebih kepada penyesalan sang laki-laki karena melakukan hal tersebut.

beberapa lagu favorit saya juga memiliki pembendarahan cerita yang menarik, seperti

"Dokter Suster" yang bagian terbaiknya ada pada 
"pake infus.. hampir mampus.." (ini bagian yang paling dihafal orang)
atau bagian yang colongan
"Anjing...edan.. apa salahku."
"seluruh badan memang sakit, tapi hati yang paling sakit"... aih

kemudian pada lagu "Pelangi di Matamu" yang menurut saya bagian yang paling puitisnya ada pada 

"mungkin butuh kursus.. merangkai kata... untuk bicara..." sedap.


Posisi Jamrud di setiap karyanya konsisten bicara sebagai kaum menengah, sedikit payah.. mungkin bisa dibilang mewakili kaum proletar.
Jamrud seperti bicara bahwa kaum ini bukan hanya punya cerita mengenai sembako mahal atau harga BBM yang selangit. kaum proletar juga punya cerita cinta yang asik untuk dikulik. 
Entah cerita cinta yang gagal, cinta yang digantung, cinta yang seadanya hingga cinta jarak jauh.

Saya mengenal Jamrud hanya apa yang populer dari mereka.
saya tidak mendalami mengenai pergantian personel mereka atau bagaimana akhirnya, Krisyanto balik lagi ke Jamrud.

Jamrud mungkin dinilai terkenal karenatema yang nyeleneh.
disamping itu Jamrud mampu dikenal karena narasi mereka yang menyentuh banyak kalangan (sehingga mudah dihafal). Jamrud juga membuktikan bahwa tidak butuh lirik puitis untuk menjadi dipuja-puji. menjadi jujur pun bisa makmur.