victims

Showing posts with label pulang. Show all posts
Showing posts with label pulang. Show all posts

Thursday, July 2, 2015

Lampiasan Pulang

Lama tak pulang membuat gw ingin melampiaskan beberapa hal yang mungkin nanti bisa ditemui ketika udah ada di bumi Tangsel yang indah.


***

1. Masakan Manado Mamak

urutan pertama yang harus dan selalu harus ditemui ketika pulang nanti. Secara mamak gw baru aja pulang dari Manado mungkin beliaw bawa ikan-ikan atau oleh-oleh menarik dari sana. yang belum tau Manado, ehm. banyak yang ga tau Manado itu ada di Sulawesi. Sulawesi adalah  pulau yang berada di sebelah timur Kalimantan. Bentuknya unik seperti orang sedang lay-up. Manado ada di Sulawesi Utara yang artinya ada disekitar ujung utara Pulau Sulawesi. Begitu.
Dari Jogja gw sudah berharap semoga hidangan di atas meja nanti berupa ikan-ikanan yang syur dan mimpi gw adalah bisa berbuka dengan pisang goreng + dabu-dabu. (lap iler, lap ingus, lap keringet).
Pisang goreng + sambel adalah cemilan sehat berenergi dari Manado. Mungkin bukan cuma manado, tapi di Kalimantan - Sulawesi - Ambon beberapa daerah yang memiliki kebiasaan menyantap pisang goreng dengan sambal. Pisangnya sendiri jangan bayangkan pisang yang cemen kayak di Jawa. Pisang sana besar, tebal dan bikin kenyang.

2. Jogging Keliling Komplek

Karena sudah makan, harus diimbangi dengan terbakarnya paling ngga sedikit lemak dari yang sudah di asup. Jogging keliling komplek udah kayak ritual sendiri sih kalo pulang ke Tangsel. selain mencari keringat juga mencari tahu ada apa aja perubahan dengan cara keliing komplek. kalau beruntung ketemu bapak-bapak yang akan nanya (udah selesai kan ya ?)

3. Makan Bakmi GM

Jogja yang berhati nyaman ini tidak punya Bakmi GM disegala sudut kotanya. hati ini rasanya tidak nyaman kalau pulang namun tidak icip nasi goreng atau mie goreng atau pangsitnya yang tipis namun asik itu.

4. Makan Bakmi Japos

legenda mie di seluruh alam semesta. Kurang diketahui mengapa namanya Japos namun yang gw ketahui adalah rasanya entah mengapa merasuk ke relung hati. 

5. Naik Motor

secara random, sangat berbeda naik motor di Jogja dan di Tangerang Selatan. Ada suasana yang berbeda saat di jalan, kemudian parkir dan menyalakan motor kembali. Lalu lintas yang agak lenggang sedikit macet. ini di Tangsel lho, makanya sedikit tidak macet diwaktu tertentu. modus lainnya sih sebenarnya penasaran sama jalanan Tangsel apa aja yang berubah. dll..

6. Makan di Warteg

Naik motor tadi cuma selingan biar ga keliatan makan terus pas pulang nanti. Warteg adalah salah satu pesona wisata Tangsel yang kurang digemari. Masakan Warteg entah mengapa sangatlah menarik. Lauk yang Bhinneka dicampur menjadi satu dilengkapi teh anget tawar betapa nikmatnya. Hal ini harus gw lakukan ketika pulang nanti.

7. Beli Tiket Ke Jogja

Demi mengejar gelar sarjana rasanya jangan lama-lama di Tangerang Selatan.

Berikut rangkaian yang harus gw lakukan, meskipun ada beberapa hal penting yang tidak harus ditulis misalnya ke Slipi (eh malah gw tulis).

Saturday, April 12, 2014

Cuma sebentar di rumah

sebagai bakti gw kepada orang tua, akhirnya gw pulang ke rumah untuk Pemilihan umum dan tentunya memilih bokap gw yang jadi calon anggota dprd. pulang yang singkat ini cukup punya banyak cerita. mungkin sebenarnya engga, tapi karena gw bawel aja jadi seakan ada banyak yang bakalan gw tulis di post ini.

berangkat dengan kereta api dan secara ga sengaja duduk sebelahan sama adek angkatan, gw tiba di Jakarta jam setengah enam sore. jam krusial. jam hidup mati pekerja. gw menuju rumah bersama barisan sakit hati pelanggan setia Commuterline. mereka yang sakit hati karena harus selalu hidup berdempetan setiap sore bersama kulit-kulit pekerja lain yang belum mereka kenal sebelumnya. 

romantisme kereta api yang dibangun oleh Train Music Orchestra, Gardika Gigih, runtuh di sini.

naik dengan kejam, turun juga harus kejam. karena mengalah tidak ada di kamus mereka. gw yang sedang berusaha turun harus dengan jahat memaksa bapak-bapak ikut terdorong keluar karena tidak ada niatan untuk minggir sebentar. sebentar.

rumah gw ternyata ga banyak berubah. ditinggal semenjak lebaran tahun lalu dan ternyata sama aja. gw selalu berharap sesuatu yang baru di dalam rumah. tapi yang berbeda cuma suasana rumah yang ramai pengunjung karena bokap nyaleg.

di lingkungan rumah gw bertemu teman-teman sebaya yang ternyata ga banyak berubah semenjak kenal pertama kali. tapi ada banyak hal berubah.
orang tua-orang tua tetangga gw sudah semakin putih warna rambutnya. tak lagi hitam seperti 4 tahun yang lalu. eksistensi mereka pun sudah digantikan oleh anak-anaknya yang baru saja menikah dan punya anak. menurut gw ini lucu. dan lingkungan seperti ini gw yakin jarang ditemui saat ini di kota-kota besar.

sebuah perumahan yang dibangun oleh orang-orang tua, dan ketika mereka menua anak-anaknya melanjutkan romantisme antar tetangga yang ada. lalu siklus terjadi ketika cucu-cucu lahir dan bermain bersama melanjutkan pembangunan atmosfer yang sudah terjadi, dimulai oleh kakek-nenek mereka.

di lingkungan rumah gw, satu sama lain tahu menahu berita yang beredar tentang anak ibu satu dan yang lain. berita beredar sangat cepat. baru beberapa jam nyokap gw tau, kalo gw keterima di Komunikasi UGM, tiba-tiba saat gw main keluar ada beberapa ibu-ibu nyelametin gw karena udah keterima di UGM. betapa.

lingkungan rumah gw seringkali disebut sebagai "komplek" dan mereka yang menyebut "komplek" kerap dikenal sebagai "kampung". di lingkungan rumah gw komplek memang bersebelahan dengan kampung. ada sedikit kesenjangan tapi tak ketara. hal yang membedakan orang komplek dan kampung adalah cara berpakaian, cara bicara dan biasanya kendaraan. orang kampung bicara dengan sangat betawi dengan lawakan yang sungguh berbeda dengan anak komplek. cara berpakaian anak kampung sangat khas. mereka biasanya mengikuti trend yang ada, namun sayangnya tidak cocok. kendaraan anak kampung dan komplek sebenarnya sama. mayoritas motor. namun tingkat kebisingan kendaraan anak kampung lebih tinggi dari anak komplek.

kampung semakin padat. gw lewat sedikit dari jalan kampung yang dulu sering gw lewati saat masih muda. ternyata banyak tanah kosong sudah menjadi rumah dan seterusnya. kampung ini sendiri tak ubahnya sebuah lingkungan keluarga besar, karena penghuni baru rumah-rumah yang baru berdiri adalah mereka orang-orang yang tinggal di kampung yang menikah.

ada pula tanah-tanah yang akhirnya didirikan usaha kontrakan atau warung kecil.

komplek yang sudah begitu darisana-nya tidak bisa diubah lagi. dan tugas mereka yang tinggal disana ialah menjaganya agar tidak berubah menjadi buruk.

hari-hari tanpa makna dirumah terlewati begitu saja.
Kamis sore gw bertolak menuju stasiun Gambir dengan ojek yang overprice.
keberadaan gw di Jakarta ditutup dengan kecelakaan lalu-lintas persis di depan Monas.
pengemudi mobil yang adalah perempuan glamor menyenggol mas-mas pekerja jangkung dengan motor matic-nya. dialog yang sempat gw dengan ialah " YAAAMPUUUN ADUUUUH, MAAAF GA KENAPA-KENAPA KAN ?" dan mas-mas itu hanya ngeliatin si nona panik dan ojek gw berpaling cepat menuju stasiun tujuan.

sampai jumpa lagi ibu kota.

Monday, July 26, 2010

ga pulang der ? ngapain aja di jogja ?



nyam

dua pertanyaan itu selalu berangkai. gatau knapa. namun ini jawabannya.

secara normatif gw latihan hockey

selasa sore @ gelanggang UGM
kamis sore @ UPN atau Mlati
jumat pagi  @ gelanggang UGM
sabtu sore  @ UPN atau Mlati
minggu sore @ lap. Pancasila

namun sebagai manusia yang tak lepas dari kemalasan, teknisnya yaaa.. 2-3 kali aja latihannya, kadang 4 deh hehe.

latian doang ?

ya ngga laah, gw aja ga kurus-kurus.
selain itu kehidupan di kamar ini adalah antara gw, laptop dan vcd-vcd rentalan yang di antara lain.
 Ocean bersaudara 11, 12, 13 gw hajar semua.
Kingdom of Heaven juga.
 Nah masalahnya, dari awal liburan tekad gw itu nonton film-film sejarah, mau perang pedang sampe peluru deh.
tapi
entah kenapa tiba-tiba (jengjengjeng) gw tertarik sama film-film yang bau-bau motivasi hidup. dan based on true story dan emang kadang agak cengeng sh, tapi efeknya oke buat gw yang emang agak seneng dimotivasi.
mungkin review filmnya kapan-kapan deh, lelah.
Greatest Game I ever Played
RADIO

RENT
Invincible
We Are Marshall


Into The Wild