victims

Saturday, April 12, 2014

Cuma sebentar di rumah

sebagai bakti gw kepada orang tua, akhirnya gw pulang ke rumah untuk Pemilihan umum dan tentunya memilih bokap gw yang jadi calon anggota dprd. pulang yang singkat ini cukup punya banyak cerita. mungkin sebenarnya engga, tapi karena gw bawel aja jadi seakan ada banyak yang bakalan gw tulis di post ini.

berangkat dengan kereta api dan secara ga sengaja duduk sebelahan sama adek angkatan, gw tiba di Jakarta jam setengah enam sore. jam krusial. jam hidup mati pekerja. gw menuju rumah bersama barisan sakit hati pelanggan setia Commuterline. mereka yang sakit hati karena harus selalu hidup berdempetan setiap sore bersama kulit-kulit pekerja lain yang belum mereka kenal sebelumnya. 

romantisme kereta api yang dibangun oleh Train Music Orchestra, Gardika Gigih, runtuh di sini.

naik dengan kejam, turun juga harus kejam. karena mengalah tidak ada di kamus mereka. gw yang sedang berusaha turun harus dengan jahat memaksa bapak-bapak ikut terdorong keluar karena tidak ada niatan untuk minggir sebentar. sebentar.

rumah gw ternyata ga banyak berubah. ditinggal semenjak lebaran tahun lalu dan ternyata sama aja. gw selalu berharap sesuatu yang baru di dalam rumah. tapi yang berbeda cuma suasana rumah yang ramai pengunjung karena bokap nyaleg.

di lingkungan rumah gw bertemu teman-teman sebaya yang ternyata ga banyak berubah semenjak kenal pertama kali. tapi ada banyak hal berubah.
orang tua-orang tua tetangga gw sudah semakin putih warna rambutnya. tak lagi hitam seperti 4 tahun yang lalu. eksistensi mereka pun sudah digantikan oleh anak-anaknya yang baru saja menikah dan punya anak. menurut gw ini lucu. dan lingkungan seperti ini gw yakin jarang ditemui saat ini di kota-kota besar.

sebuah perumahan yang dibangun oleh orang-orang tua, dan ketika mereka menua anak-anaknya melanjutkan romantisme antar tetangga yang ada. lalu siklus terjadi ketika cucu-cucu lahir dan bermain bersama melanjutkan pembangunan atmosfer yang sudah terjadi, dimulai oleh kakek-nenek mereka.

di lingkungan rumah gw, satu sama lain tahu menahu berita yang beredar tentang anak ibu satu dan yang lain. berita beredar sangat cepat. baru beberapa jam nyokap gw tau, kalo gw keterima di Komunikasi UGM, tiba-tiba saat gw main keluar ada beberapa ibu-ibu nyelametin gw karena udah keterima di UGM. betapa.

lingkungan rumah gw seringkali disebut sebagai "komplek" dan mereka yang menyebut "komplek" kerap dikenal sebagai "kampung". di lingkungan rumah gw komplek memang bersebelahan dengan kampung. ada sedikit kesenjangan tapi tak ketara. hal yang membedakan orang komplek dan kampung adalah cara berpakaian, cara bicara dan biasanya kendaraan. orang kampung bicara dengan sangat betawi dengan lawakan yang sungguh berbeda dengan anak komplek. cara berpakaian anak kampung sangat khas. mereka biasanya mengikuti trend yang ada, namun sayangnya tidak cocok. kendaraan anak kampung dan komplek sebenarnya sama. mayoritas motor. namun tingkat kebisingan kendaraan anak kampung lebih tinggi dari anak komplek.

kampung semakin padat. gw lewat sedikit dari jalan kampung yang dulu sering gw lewati saat masih muda. ternyata banyak tanah kosong sudah menjadi rumah dan seterusnya. kampung ini sendiri tak ubahnya sebuah lingkungan keluarga besar, karena penghuni baru rumah-rumah yang baru berdiri adalah mereka orang-orang yang tinggal di kampung yang menikah.

ada pula tanah-tanah yang akhirnya didirikan usaha kontrakan atau warung kecil.

komplek yang sudah begitu darisana-nya tidak bisa diubah lagi. dan tugas mereka yang tinggal disana ialah menjaganya agar tidak berubah menjadi buruk.

hari-hari tanpa makna dirumah terlewati begitu saja.
Kamis sore gw bertolak menuju stasiun Gambir dengan ojek yang overprice.
keberadaan gw di Jakarta ditutup dengan kecelakaan lalu-lintas persis di depan Monas.
pengemudi mobil yang adalah perempuan glamor menyenggol mas-mas pekerja jangkung dengan motor matic-nya. dialog yang sempat gw dengan ialah " YAAAMPUUUN ADUUUUH, MAAAF GA KENAPA-KENAPA KAN ?" dan mas-mas itu hanya ngeliatin si nona panik dan ojek gw berpaling cepat menuju stasiun tujuan.

sampai jumpa lagi ibu kota.

No comments: